Showing posts with label Poem. Show all posts
Showing posts with label Poem. Show all posts

Sunday, December 9, 2012

this is your life


sometimes I just wanna press your hands against my chest, 
so you can see that this is your heartbeat,
this is your life.
and even there are distance and wounds,
that might or might not be healed, over the years..

I really just wanna feel your hair on my hands again..
I really just wanna tell you,
that I love you. simply love you.
I hope you can hear me,
I hope angels watch over you.
I hope you know that there'll never be a day when I dont think bout you.

Monday, June 13, 2011

Surat Kecil untuk Tuhan

diambil dari novel Surat Kecil untuk Tuhan :)

sinopsisnya bagus (ngga baca novelnya haha), kayanya filmnya (katanya bentar lagi keluar) juga bagus
ini surat kecilnya :)


Tuhan...
Andai aku bisa kembali
Aku tidak ingin ada tangisan di dunia ini

Tuhan...
Andai aku bisa kembali
Aku berharap tidak ada hal yang sama terjadi padaku,
Terjadi pada orang lain.

Tuhan...
Bolehkah aku menulis surat kecil untuk-Mu

Tuhan...
Bolehkah aku memohon satu hal kecil untuk-Mu

Tuhan...
Biarkanlah aku dapat meilhat dengan mataku
Untuk memandang langit dan bukan setiap harinya..

Tuhan...
Ijinkanlah rambutku kembali tumbuh, agar aku bisa menjadi wanita seutuhnya.

Tuhan...
Bolehkah aku tersenyum lebih lama lagi
Agar aku bisa memberikan kebahagiaan
kepada ayah dan sahabat-sahabatku

Tuhan...
Berikanlah aku kekuatan untuk menjadi dewasa
Agar aku bisa memberikan arti hidup
kepada siapapun yang mengenalku..

Tuhan ..
Surat kecil-ku ini adalah surat terakhir dalam hidupku
Andai aku bisa kembali...

Ke dunia yang Kau berikan padaku..

In memoriam,
Gita Sessa Wanda Cantika
19/06/91 - 25/12/06

Wednesday, May 4, 2011

Musim Semi Hanya Sebentar

Musim semi tidak kekal, gadisku,
Musim semi tidak kekal.
Jangan kaubiar diri disemu waktu.
Jangan oleh usia muda kau ditipu:
Waktu dan remaja menjalin karangan
dari para kembang yang mudah layu.

Musim semi tidak kekal, gadisku,
Musim semi tidak kekal.
Mudah saja melayang usia kita
Dan dengan nafsu rampok di sayapnya,
Datang kembali mengusik kita,
Setan-setan jorok dan jahat.

Musim semi tidak kekal, gadisku,
Musim semi tidak kekal.
Jika sangkamu: lonceng kehidupan
Menglenengkan pagi hari bagimu,
Maka lonceng malam yang klenengan
Mengakhiri segala sukamu.

Musim semi tidak kekal, gadisku,
Musim semi tidak kekal.
Bersukalah selagi kaudapat bersuka,
Bercintalah selagi orang cinta padamu
Sebelum usia lanjut cepat
Memeraki rambutmu kencana.

(Luis De Gongora Y Argote)

Wednesday, April 27, 2011

Angin: Mendesir Lagi

Angin: mendesir lagi
Hampir mengantuk
Ada sepi
Berbisik di dahan-dahan pohon
Lagi tahu, gerimis turun

Di luar kamar yang tembaga
Di luar rongga kata
Engkau gemetar karena musim
Cemas dalam kata
Dan tahu: ada yang tiada
Bangkit di jendela

Dan mungkin: senja


1968
(Abdul Hadi W.M)

Wednesday, March 16, 2011

Bisikan Daun-daun Sabda


Malam tenggelam tanpa kata
Telah tidur daun mudanya
Layu termakan rindu
Menanti pagi yang semu

Malam diam tanpa pesona
Masih terjaga daun tuanya
Kering, bergemerisik tertiup angin
Menyanyi gembira dalam dingin

Tiada kata berbulan mesra
Hanya suara daun-daun tua
Gemerisik berbisik-bisik
Merdu dengan keheningan langit

Mas, bukankah kau dulu bilang
Biarlah tetap manis kita punya angan-angan
Kendati pahit apa yang kita hadapi sekarang
Hidup kita akan berjalan perlahan-lahan

Suara itu menggugah aku
Dan jatuhlah daun-daun tua itu
Menyayikan bisikan sabda-Nya
Tegakah kau mendiamkan cintaku pada dunia?

(Ismanto)
2001


Monday, February 28, 2011

Prajurit Jaga Malam

Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,
bermata tajam
Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya
kepastian
ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini
Aku suka pada mereka yang berani hidup
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam
Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu……
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu !
1948
Siasat,
Th III, No. 96
1949
(Chairil Anwar)

Sunday, November 7, 2010

Sajak Putih

Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda

Sepi menyanyi, malam datang mendoa tiba
Meriah muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku
Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita Mati datang tidak membelah
(Chairil Anwar)